
Tapi kali ini kita bukan mau ngobrolin lurus nggak lurus sebuah karya kawan's, Ini soal bagaimana karya lama bisa jadi nasihat untuk diri sendiri. Yaaah, seperti biasa...tulisan ini selalu soal saya, si Pengembara Dari Timur---ya Eeeeyalah, secara ini blog saya. Kalau mau tentang kamu, nulis sono di blog sendiri.hehe
Oke, kita mulai kisahnya. Begini kawan's---hampir satu bulan si Asikin Prabowo Sutejo Kertaraharjo Mangunkusumo Ditimpo Kelopo Ora' Opo-Opo---pangeran-3 dari dinasty Haris---bikin gempar dunia persilatan. Pasalnya, dia mulai bertingkah di padepokan tempatnya berguru ilmu kanuragan.
Mungkin seperti pada umumnya, usia puber selalu membuat seorang calon raja jadi labil. Dia mencari jati diri, sampai akhirnya mudah dipengaruhi oleh lingkungannya. Sssst--dengar-dengar dia banyak masalah! Mulai dari tuntutan upeti yang cukup banyak ke rumah, banyak dapat catatan minus dari para Empu Padepokan, sampai hoby-nya memasuki alam maya untuk update FaceBook dan main game online. Ckckck. Tapi yang paling membuat gempar adalah katanya dia ngisep gulungan tembakau. *Rrrrr!*
Dalam pertapaan, saya merenungi dan menyadari kalau setiap calon raja yang sedang puber pasti selalu labil. Tak punya karakter diri, karena itu sering kali lingkungan yang menempanya jadi lebih labil lagi. Melalui perenungan itu, ada wangsit yang mampir dan mendorong saya untuk menyampaikan saran pada Ibunda Ratu dan Ayahanda Raja. Memintanya untuk membawa pangeran Asikin Prabowo Sutejo Kertaraharjo...Aaaargh panjang amat namanya. Intinya minta ijin ke Kerajaan untuk membawa tu putra mahkota ke bumi kasultanan Ngayogyakerto. Alhamdulillah, dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan hal itu akhirnya harus dilakukan.
Semua masalah si putra mahkota itu harus diselesaikan segera, maka jadilah Kerajaan mengutus Si Secondlalu Zombie The Green Boy---pangeran-2 dari dinasty Haris menjemput Asikin Prabowo Sutejo Kertaraharjo dst dsb dan membawanya ke bumi kasultanan ini. Semoga menjadi solusi awal untuk membina si putra mahkota ke-3 ini menjadi lebih baik. Bismillah...
Merenungi masalah ini saya jadi ingat sebuah manuskrip karya yang dimuat di sebuah portal website menjadi nasihat lagi bagi saya. Tentang arti sebuah persaudaraan, tentang peran seorang Kakak. (kalau mau baca klik ajah gulungan manuskrip ini : "Belajar Menjadi Kakak" )
Cukup deh sepenggal manuskrip cerpen itu jadi perenungan lagi bagi saya untuk menyikapi si putra mahkota. Dan memang terbukti, menulis itu selalu bisa menjadi nasihat untuk diri sendiri.
Hufh. Sudah pagi, ayam jantan hampir berkokok. Cukup dulu deh. Saya mau istirahat. Jangan bosen mampir ke blog ini, walau ceritanya nggak jelas tapi yang penting: senyum-senyum berhikmah deh.
Hai boi, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Silahkan berkomentar dan meninggalkan kesan menyenangkan. Mari ngobrol asyik tentang apapun di blog nyantai ini. Semoga berkenan ya boi. Salaam #GoBlog ^_^
Terima Kasih
Halama Haris