Mungkin sedikit aneh karena setiap memandangi langit malam, bagiku pasti selalu ada yang hilang di sana. Tapi tidak dulu, saat aku masih memilikimu. Entah apa yang akan dikatakan setiap orang yang melihatku terasenyum sendiri memandang langit saat itu.
Karena jelas aku mengukir bayang wajahmu di langit malam, dan itu lebih benderang dari bulan purnama saat itu. Sekarang aku mengenang semuanya dan aku merasa menjadi orang terbodoh.
KENAPA?
Karena sampai saat ini aku belum bisa menangkap dan memaknai senyummu. Padahal kau telah memberikan senyum pada semua orang, sedangkan aku sampai saat ini masih menganggap senyummu padaku itu biasa. Maafkan aku.,.
Asal kau tahu, aku pernah mencoba mengemas sebuah bingkisan yang sampai saat ini belum kuberikan padamu. Namun terkadang bingkisan itu rusak karenaku, tapi kukemas lagi, dan rusak lagi…tapi kau tetap tersenyum padaku, inilah bodohnya aku yang tidak mampu memaknai senyummu itu padaku.
Aku juga pernah mencoba mencuri perhatianmu dengan berlagak pandai agama dan penampilan oke, seperti yang kau sukai... Tapi kadang aku hanya menjadikan itu tipuan untukku padamu…maafkan aku.
Baiklah, aku akui kata orang bahwa jatuh cinta itu adalah pengorbanan jiwa dan raga. Dan itu yang ingin kupelajari darimu, sedang kau sangat mengerti aku yang sampai saat ini masih belum bisa memberikan hal itu padamu.
Adakah cara lain untukku memaknai senyummu itu padaku…yang juga kau berikan pada seluruh insan…
yaa Rasulullah...
The End
Prosa di atas adalah sebuah symbol perenungan. Mungkin seperti itulah kita setiap kali mencoba menjadi umat Rasulullah. Ibarat menatap langit malam, kita selalu berusaha mengenangnya sebagai sosok yang mengagumkan dan patut untuk ditauladani. Memberikan pembelajaran dari segala aspek kehidupannya, baik aspek ibadah dan muamalahnya.
Setiap senyumnya adalah perandaian dari warisan Islam yang menyeluruh untuk umat Islam hingga yaumil akhir nanti. Tetapi anehnya kita, nikmat islam begitu jelas dalam setiap bagian kehidupan ini, namun jarang sekali melekat dan menyentuh nurani sebagai seorang muslim.
Terbayangkan, ibadah kita terkadang hanya sebgai bentuk pengguguran kewajiban saja. Bahkan sunnah selalu dapat menjadi alasan untuk tidak menjalankan ajarannya, “Ah kan cuma sunnah…” seperti itu kita berucap.
Namun disamping itu semua, ada pula sebuah kebanggan untuk dapat mengecap nikmat iman dan ilmu. Dan dalam batas fitrah seorang insan pun kesombongan masih saja dapat muncul. Apakah iman yang terlampau tinggi justru membuat kerabat kita terlihat kotor? Apakah Ilmu yang terlampau tinggi justru membuat saudara kita menjadi orang terbodoh?
Tidak! Rasulullah tidak mengajarkan itu.
Pastilah kita tahu apa yang beliau tuntunkan pada umatnya selama ini. Pengorbanan berupa keikhlasan dan tauladan. Dan pastikan itu semua kebaikan untuk kita. Begitu banyak hal yang telah beliau berikan pada kita, dan inilah wujud cinta.
Sekarang…apakah kita tengah jatuh cinta padanya? Apa yang bisa kita berikan padanya? Apakah cukup berupa keimanan sebagai umatnya dan ketakwaan sebagai hamba Allah? Bukankah kita rindu senyum Rasulullah?Jawabannya ada pada senyummu untuk saudara muslimmu
(^_^) h.h
Wallahu’alam.
Hai boi, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Silahkan berkomentar dan meninggalkan kesan menyenangkan. Mari ngobrol asyik tentang apapun di blog nyantai ini. Semoga berkenan ya boi. Salaam #GoBlog ^_^
Terima Kasih
Halama Haris