Kiruman mendorong benda beroda tiga itu sekuat nafasnya. Rambut keritingnya tertutup pet dan mulai gatal. Tanjakan setelah persimpangan memompa keringatnya, mengucur deras menerobos pori-pori. Matahari memang memanggang siang hari itu. Sedang penumpang yang menaiki becaknya sejak tadi tidak jua menunjukkan tujuan yang jelas, di lampu merah tadi cuma satu kali penumpangnya bercakap. “Terus saja bang, nanti kalau saya bilang berhenti, baru berhenti.”
Kembali lelaki bewok itu menaiki becaknya setelah jalan kabupaten sedikit datar. Mengayuh kembali. Manusia di dalam becaknya adalah seorang lelaki. Tinggi tegap, rahang yang padat, pakaian necis, bersepatu pantofel, dengan kopor di sampingnya dia terlihat seperti bos besar, pejabat, direktur perusahaan, atau Bisnismen profesional. Tapi kenapa pula dia naik becak, Kiruman jadi buncah karenanya. Kalau mau berhitung waktu, sudah setengah jam lebih Kiruman tidak berhenti mengayuh. Biadab benar manusia ini, gumamnya. Kalau bukan karena argo yang berputar di otaknya Kiruman mungkin akan berhenti mengayuh. Lumayan bisa mengganjal kantongnya dua hari. Hitung-hitungan tarifnya sekarang sudah bisa lebih dari penghasilan biasanya. Untuk memenuhi hidupnya yang menduda setelah istrinya kabur dengan lelaki lain, ditambah anak laki-lakinya yang hilang tidak jelas di Ibu Kota. Kiruman sebatang kara.
“Pak, tahu dimana orang yang jempol kakinya tirus? Antarkan saya kesana, ya.” Suara serak lelaki terdengar lagi. Kiruman bingung. Bagaimana bisa tahu jempol kaki orang lain, wong jempol kaki sendiri saja tidak pernah diurus. Kiruman memandang kakinya yang menjepit sandal karet, punggung kakinya hitam daki dekil.
Jempol? Kukunya saja sudah tidak utuh karena pernah pecah tertancap linggis waktu gotong royong bikin pondasi masjid. Hah, apa hubungannya jempol kaki dengan tujuan manusia necis ini. Kiruman benar-benar tergoda untuk tahu. Dia bertanya dan lelaki itu tertawa. Orang ini sudah edan, pikir Kiruman.
Lelaki itu balik bertanya apakah Kiruman lapar. Kiruman kebingungan dan perutnya tidak berbohong, bantuan tenaga dari nasi rames pagi tadi sudah tidak membuat punggungnya tegak lagi. Sekarang demonstrasi sedang terjadi di lambungnya. Lelaki itu tertawa dan menunjuk rumah makan di ujung jalan sana, tepat di sudut tikungan ke arah pasar kecamatan. Rumah makan Maknyusss, rumah makan mewah untuk orang-orang berkantong.
“Aku yang traktir…” begitu kata penumpang necis di dalam becak Kiruman. Kiruman sumringah, rizki Tuhan tidak kemana.
Kiruman memarkir becaknya menyamping di tepi terotoar. Si necis itu sudah masuk ke dalam warung makan. Kiruman mematung memandanginya sampai akhirnya lelaki itu memanggilnya. Kiruman beranjak patuh masuk ke rumah makan Maknyusss.
“Bapak silahkan makan sepuasnya. Saya yang bayar.” Semua mata di rumah makan itu menyorot ke arah sumber suara. Berpaling ke arah Kiruman yang terlihat bingung dengan maksud penumpangya.
“Eeh…eh saya makan ini…” Pramusaji mulai melayani, diambilnya lauk pauk yang ditunjuk oleh Kiruman. Lelaki necis itu memandang Kiruman, “Apa lagi pak…?”
Sedikit kikuk, Kiruman memandangi segala menu yang terhidang di meja lauk pauk Rumah Makan Maknyusss itu. Semuanya membangkitkan nafsu makannya. Ini kesempatan yang langka, makan tempe goreng sayur asam sudah biasa, tapi ayam goreng dan rawon itu baru luar biasa.
“Yang ini…yang ini…itu…ini juga..itu..ini…” Pramusaji menelan ludah, memandang bingung pada Kiruman saat nasi di atas piring sudah tidak terlihat karena tumpukan lauk. Pramusaji memandang ke lelaki necis yang hanya tersenyum senang.
“Kalau bapak makan apa?” Pramusaji mencoba menawarkan setelah Kiruman mengambil piring nasi di tangannya dan beranjak cepat ke meja makan, lahap. Lelaki necis memandang pramusaji itu. “Minum saja…”
“Minumnya?”
“Air putih.” Pramusaji bengong.
“Di sini ada Jus Anggur, Mangga, lemon, juga minuman hangat Moccacino…Shake, atau minuman soda…” Tawarnya.
“Boleh, Moccacino untuk bapak itu…” Lelaki necis itu menunjuk Kiruman yang konsentrasi penuh pada paha ayam di piringnya. “Bapak sendiri…Minumnya…”
“Tadi kan sudah bilang, Air putih…” Pramusaji menggumal bibir dan bergumam dengan heran. Menghela nafas dan beranjak menyiapkan minuman untuk tamunya yang aneh.
Lelaki Necis itu duduk di meja yang sama, menghadap Kiruman yang lahap dengan menu di piringnya. Tangan kanannya sibuk meyendok nasi, tangan kiri memegangi paha ayam, berganti mencubiti rendang, sendok dilepasnya, lalu menyuap nasi lebih cepat. Lelaki necis itu tersenyum. “Enak Pak?”
Kiruman tersedak mendengar pertanyaan itu. Terbatuk dua kali bertepatan dengan datangnya minuman. “Moccacino hangat untuk bapak…” Ucap lelaki necis itu, mendorong Kiruman menyambarnya dan menyerut cepat mendorong makanan yang tercekat di tenggorokannya. Lega. Kiruman mengangguk dengan mata berbinar-binar.
Setelah usai makan. Kiruman kembali mengayuh dengan semangat empat lima. Sekarang lelaki necis memberikan alamat yang lebih jelas, Jalan Mangku Dhuwur No. 108. Kompleks perumahan elit para Pejabat Daerah. Kiruman terbengong-bengong memandang pilar-pilar kokoh dan pagar-pagar megah perumahan yang dilewatinya.
“Stop Pak!” Becak berhenti di rumah bertembok biru muda. Lelaki necis itu turun.
“Terimakasih sudah menemani saya, Pak…” dikeluarkannya dompet kulit, jelas sekali tebal karena kartu kredit, ATM dari tiga Bank berbeda, dan kartu prabayar lainnya. Lembaran seratus ribu disodorkan. Kiruman melotot.
“Tapi saya belum ngantar Bapak ke orang yang jempol kakinya tirus…” Ucap Kiruman dengan kisruh, uang itu memang terlalu besar nilainya untuk tukang becak seperti dirinya, ditambah lagi tadi ditraktir makan membuat Kiruman tidak enak hati. Lelaki necis itu tersenyum.
“Sudah ketemu kok Pak…”
“Ketemu? Dimana? Kapan…kok saya nggak lihat.” Muka Kiruman pias dan penuh kebingungan.
“Ini orangnya.” Lelaki Necis itu mendekap bahu Kiruman. Kiruman bertambah bingung bersamaan dengan gerbang yang terbuka lebar. Seorang wanita elegan dan gadis kecil berlari ke arah Lelaki necis itu.
“Papa…Kakek sudah ketemu…”
“Bagaimana Pa. Sudah ketemu dengan Ayah?” Lelaki Necis itu merangkul gadis kecil dan wanita bergaya elegan itu.
“Tidak hanya ketemu sayang…sekarang dia juga datang ke tempat kita.” Lelaki necis memandang Kiruman dengan isyarat yang jelas.
“Sama seperti putranya, dia pekerja keras.” Wanita elegan itu menjabat tangan Kiruman dan menciumnya dengan hormat. Kiruman menggeleng tidak mengerti, hampir menarik tangannya.
“Kakeeek…” Gadis kecil itu menghambur menarik tangan Kiruman. Kiruman benar-benar terkurung kegamangan sampai akhirnya sadar saat memandang mata lelaki necis di hadapanya. Tatapan yang sama dan hilang sejak sepuluh tahun yang lalu, saat seorang anak remaja yang tidak jelas kemana tujuan hidupnya di Ibu Kota. Kiruman memandangi kakinya yang menjepit sandal karet, punggung kakinya hitam daki dekil. Jempol kakinya tidak lagi tirus karena tertancap linggis. Kiruman tersenyum haru. Tumpahlah tangisnya.
SELESAI
Cerpen pertama saya yang dimuat di Harjo (Harian Jogja) tanggal : 16 Mei 2009
Terinspirasi dari tukang becak yang saban subuh rajin ikut shalat di Masjid dekat kost-ku

Hai boi, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Silahkan berkomentar dan meninggalkan kesan menyenangkan. Mari ngobrol asyik tentang apapun di blog nyantai ini. Semoga berkenan ya boi. Salaam #GoBlog ^_^
Terima Kasih
Halama Haris